Sudah lama sekali saya tidak menulis blog. Terlalu sibuk untuk berpikir, dan menyimpulkan, tapi tidak pernah dipublikasikan. Padahal seseorang pernah mengatakan, percuma meluangkan waktu untuk merenung, namun tidak pernah berbicara perenungan tersebut. Buang-buang waktu. Kebetulan orang tersebut adalah saya sendiri. Sedih rasanya mengingat mengapa diri saya sewaktu masih SMP menghapus seluruh entri blog lama saya. Mungkin ada banyak hal yang menarik yang bisa saya nikmati, biarpun saya ingat kalau kemampuan menulis saya waktu itu jauh lebih parah daripada yang sekarang. (Padahal yang sekarang juga sudah parah) Jadi inilah blog baru saya, di Blogger. Pertanyaan: Mengapa Blogger? Sejujurnya saya sudah menghabiskan waktu berpuluh-puluh jam untuk mempelajari Wordpress, sebuah platform CMS yang menurut saya cukup canggih. Tapi saya ini hendak mempublikasikan pikiran saya, bukan berusaha membuat website yang sangat bagus. Sementara Blogger, ini adalah CMS yang sangat simple. Be...
Di post yang sebelumnya, saya menyinggung soal 'Menjadi nyaman dalam ketidaknyamanan'. Saya rasa itu adalah phrase yang patut mendapat postnya sendiri. Jadi apa sebenarnya arti 'nyaman dalam ketidaknyamanan'? Bermula dari diri saya yang merasa lelah menjadi kurus. Serius, tinggi 168 cm tapi berat hanya 50 Kg + pakaian. Jadilah saya memulai proses penggemukan; saya makan lebih banyak dari biasanya dalam satu hari, dan terlebih lagi saya mulai nge-gym. Tapi bagi seseorang seperti saya, yang kesehariannya duduk, ataupun berbaring (a.k.a malas-malasan), nge-gym adalah hal yang sangat asing bagi saya. Saya butuh referensi. Jadi, seperti biasa saya mencari-cari di internet. Ini adalah summery saya mengenai apa yang saya temukan: Kalau ingin badan cepat besar, maka bertemanlah dengan suplemen! Hampir sebagian besar website mengatakan demikian, sampai saya bertemu dengan channel orang ini. Sekali lagi, ini bukan iklan, karena berkontak dengan pe...
Setiap guru, dosen, pengawas ujian, bahkan poster-poster di sekolahkan tidak mungkin tidak pernah melarang muridnya mencontek. Lebih daripada larangan untuk merokok, malahan. Padahal merokok jelas membunuh kita, sedangkan mencontek menghindari pembunuhan oleh bo/nyok karena nilai merah terbakar di atas kertas ujian. Mencontek itu sudah kayak narkoba. Kalau dipakai, bisa fatal akibatnya. Ketahuan mencontek, auto nol! Mencontek pas ujian semester? Ulang tuh pelajaran tahun depan! [Namanya juga ujian kali, ya wajar lah! Kan ujian buat mengetes kemampuan peserta didik. Kalo pake contek-contekan, ntar nggak valid hasilnya.] Iya, emang sih. Masalahnya dari fungsi ujian itu. Buat mengetes kemampuan . Cuma ujian sekarang disalahgunakan; nggak lulus ujian berarti disaster . Disaster berarti ngulang tahun depan. Ngulang berarti bayar biaya kuliah lagi! Padahal belum tentu karena (maha)siswa yang bersangkutan oon. Bisa jadi karena ada urusan lain yang jauh lebih mendesak, ataupun me...
Komentar
Posting Komentar